Sabtu, 21 April 2012

Tuhan, Manusia, dan Alam


Nama : Rianti Ridhaningtyas
Npm : 1A111404 
Kelas : 4KA32
Jurusan : Sistem Informasi 
Fakultas : Ilmu Komputer 
Dosen : Idi Darma, Spd, M. M.




 

TUHAN, MANUSIA DAN ALAM

Pengertian tentang Tuhan
A.    Tuhan berada di luar jangkauan pikiran dan akal
Seluruh alam semesta yang tak terhingga terbentang di hadapan mata kita. Tetapi di balik semuanya itu terdapat kekuatan Maha Gaib yang mendalangi semua ‘permainan’. Bahkan orang-orang yang tidak percaya kepada kebenaran agama mereka tidak menyangkal bahwa kekuatan Yang Maha Gaib itu memang ada. Tuhan tidak dapat dibatasi waktu, Ia luhur dan mandiri. Seluruh ciptaanNya mentaati perintahNya. Namun Ia bukanlah pelakuNya. Ia tak berbentuk, Ia maha ada dan memelihara segala sesuatu. Ia pencipta, tak bergerak, Maha Kuasa, Abadi, Penebus Dosa, Tak Terpahamkan, Tak Terjangkaukan, Tanpa Awal, Kekal dan Ia adalah Kesadaran murni. Ia Tak terkalahkan dan Gudang pengetahuan, Swadaya, Ia lautan kenikmatan dan Ia Maha Ada.
Pemikiran filsafat mencakup ruang lingkup yang berskala makro yaitu: kosmologi, ontology, philosophy of mind, epistimologi, dan aksiologi.Untuk melihat bagaimana sesungguhnya manusia dalam pandangan filsafat pendidikan, maka setidaknya karena manusia merupakan bagian dari alam semesta (kosmos). Berangkat dari situ dapat kita ketahui bahwa manusia adalah ciptaan Allah yang pada hakekatnya sebagai abdi penciptanya (ontology). Agar bisa menempatkan dirinya sebagai pengabdi yang setia, maka manusia diberi anugerah berbagai potensi baik jasmani, rohani, dan ruh (philosophy of mind). Sedangkan pertumbuhan serta perkembangan manusia dalam hal memperoleh pengetahuan itu berlajan secara berjenjang dan bertahap (proses) melalui pengembangan potensinya, pengalaman dengan lingkungan serta bimbingan, didikan dari Tuhan (epistimologi), oleh karena itu hubungan antara alam lingkungan, manusia, semua makhluk ciptaan Allah dan hubungan dengan Allah sebagai pencipta seluruh alam raya itu harus berjalan bersama dan tidak bisa dipisahkan. Adapun manusia sebagai makhluk dalam usaha meningkatkan kualitas sumber daya insaninya itu, manusia diikat oleh nilai-nilai illahi (aksiologi), sehingga dalam pandangan FPI, manusia merupakan makhluk alternatif (dapat memilih), tetapi ditawarkan padanya pilihan yang terbaik yakni nilai illahiyat. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa manusia itu makhluk alternatif (bebas) tetapi sekaligus terikat (tidak bebas nilai).
B.     Manusia adalah subyek pendidikan,  sekaligus juga obyek pendidikan. manusia dewasa yang berkebudayaan  adalah subyek pendidikan yang berarti  bertanggung jawab menyelenggareakan pendidikan. mereka berkewajiban secara moral atas perkembangan probadi anak-anak mereka, yang notabene adalah generasi peneruis mereka.  manusia dewasa yang berkebudayaaan terutama yang berfrofesin keguruan (pendidikan) bertanggung jawab secara formal untuk melaksanakan misi pendidikan sesuai dengan tujuan dan nilai-nilai yang dikehendaki ,asyarakan bengsa itu.
Manusia yang belum dewasa, dalam proses perkembangan kepribadiannya, baik menuju pembudayaan maupun proses kematangan dan intregitas, adalah obyek pendidikan. Artinya mereka adalah sasaran  atau bahan yang dibina. Meskipun kita sadarai bahwa perkembangan kepribadian adalah self development melalui self actifities, jadi sebagai subjek yang sadar mengembangkan diri sendiri.
C.     Alam semesta adalah media pendidikan sekaligus sebagai sarana yang digunakan oleh menusia untuk melangsungkan proses pendidikan. Didalam alam semesta ini manusia tidak dapat hidup dan “mandiri” dengan sesungguhnya. Karena antara  manusia dan alam semesta saling membutuhkan dan saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya. Dimana alam semesta ini butuh manusia untuk merawat dan memeliharanya sedangkan manusia butuh alam semesta sebagai sarana berinteraksi dengan manusia lainnya.

Pada umumnya ada tiga macam konsepsi tentang alam semesta atau identifikasi tentang alam semesta, yaitu :
1)      Ilmu pengetahuan yang didasarkan pada dua hal yaitu teori dan eksperimen.
2)      Filsafat yang didasarkan pada prinsip yang jelas dan tidak dapat disangkal lagi oleh akal dan bersifat umum dan konpherensif.
3)      Agama yang didasarkan pada pemikiran dan hujah. Dengan demikian konsepsi islam mengenai alam semesta bersifat rasional dan filosofis. Selain konsepsi filosofis yaitu abadi dan komprehensif, konsepsi religius tentang alam semesta tak seperti konsepsi ilmiah dan filosofis murni, memiliki satu nilai lagi, yaitu menyucikan prinsip-prinsip konsepsi alam semesta.

  Relasi antara Tuhan, alam dan manusia
1.      Tuhan dan manusia
Relasi yang kompleks secara konseptual dapat dianalisis berdasarkan empat bentuk utama relasi antara Tuhan dan manusia, antara lain:
a.       Relasi ontologis yaitu antara Tuhan sebagai sumber eksistensi manusia yang utama dan manusia sebagai representasi dunia wujud eksistensi nya berasal dari Tuhan atau dengan kata lain hubungan Pencipra dengan makhluk.
b.      Relasi komunikatif yaitu Tuhan dan manusia dibawa ke dalam korelasi yang sangat dekat satu sama lain dan melalui komunikasi timbal balik.
c.       Relasi Tuan-hamba, relasi ini melibatkan Tuhan sebagai di pihak Tuhan sebagai Tuan (Rabb), semua konsep yang berhubungan dengan keagunganNya, sedangkan manusia sebagai hamba yang patuh.
d.      Relasi etik, relasi ini didasarkan pada perbedaan dasar antara dua aspek yang berbeda yang dapat dibedakan dengan konsep tentang Tuhan itu sendiri dan manusia sendiri.




2.      Manusia dan alam
Pada kenyataannya saat ini manusia sudah tidak lagi memperhatikan keseimbangan alam dalam pengeksploitasiannya. Saat ini manusia sudah dikuasai nafsu untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya sehingga dalam memanfaatkan alam tak lagi memperdulikan dampak buruk terhadap keimbangan ekosistem alam di bumi ini. Hutan-hutan yang dulu lebat kini sudah gundul karena pohonnya habis ditebangi untuk berbagai macam keperluan industri. Ditambah lagi mayoritas kegiatan penebangan pohon tidak diikuti dengan kegiatan menanam pohon dengan persentase minimal setara dengan banyak pohon yang ditebang. Hal ini sungguh berakibat fatal, karena dengan demikian fungsi hutan sebagai penahan air, penyaring udara dan habitat bagi berbagai macam ekosistem flora dan fauna bisa musnah. Bila hal itu terjadi, maka jelaslah hanya dampak buruk yang akan kita terima sebagai konsekuensinya. Contohnya saja banjir bandang, tanah longsor dan yang paling parah ialah pemanasan global yang sekarang sedang terjadi. Dan ketika musibah itu terjadi, maka kita secara refleks akan berdo’a kepada Allah dengan hati yang ikhlas dan semata-mata karena Allah karena berharap kita segera diselamatkan dari musibah itu.













DAFTAR PUSTAKA




Tidak ada komentar:

Posting Komentar