Nama : Rianti Ridhaningtyas
Npm : 1A111404
Kelas : 4KA32
Kelas : 4KA32
Jurusan : Sistem Informasi
Fakultas : Ilmu Komputer
Dosen : Idi Darma, Spd, M. M.
TUHAN,
MANUSIA DAN ALAM
Pengertian
tentang Tuhan
A. Tuhan berada di luar jangkauan
pikiran dan akal
Seluruh alam semesta yang tak
terhingga terbentang di hadapan mata kita. Tetapi di balik semuanya itu
terdapat kekuatan Maha Gaib yang mendalangi semua ‘permainan’. Bahkan orang-orang
yang tidak percaya kepada kebenaran agama mereka tidak menyangkal bahwa
kekuatan Yang Maha Gaib itu memang ada. Tuhan tidak dapat dibatasi waktu, Ia
luhur dan mandiri. Seluruh ciptaanNya mentaati perintahNya. Namun Ia bukanlah
pelakuNya. Ia tak berbentuk, Ia maha ada dan memelihara segala sesuatu. Ia
pencipta, tak bergerak, Maha Kuasa, Abadi, Penebus Dosa, Tak Terpahamkan, Tak
Terjangkaukan, Tanpa Awal, Kekal dan Ia adalah Kesadaran murni. Ia Tak
terkalahkan dan Gudang pengetahuan, Swadaya, Ia lautan kenikmatan dan Ia Maha
Ada.
Pemikiran filsafat mencakup ruang lingkup yang
berskala makro yaitu: kosmologi, ontology, philosophy of mind, epistimologi,
dan aksiologi.Untuk melihat bagaimana sesungguhnya manusia dalam pandangan
filsafat pendidikan, maka setidaknya karena manusia merupakan bagian dari alam
semesta (kosmos). Berangkat dari situ dapat kita ketahui bahwa manusia
adalah ciptaan Allah yang pada hakekatnya sebagai abdi penciptanya (ontology).
Agar bisa menempatkan dirinya sebagai pengabdi yang setia, maka manusia diberi
anugerah berbagai potensi baik jasmani, rohani, dan ruh (philosophy of
mind). Sedangkan pertumbuhan serta perkembangan manusia dalam hal
memperoleh pengetahuan itu berlajan secara berjenjang dan bertahap (proses)
melalui pengembangan potensinya, pengalaman dengan lingkungan serta bimbingan,
didikan dari Tuhan (epistimologi), oleh karena itu hubungan antara
alam lingkungan, manusia, semua makhluk ciptaan Allah dan hubungan dengan Allah
sebagai pencipta seluruh alam raya itu harus berjalan bersama dan tidak bisa
dipisahkan. Adapun manusia sebagai makhluk dalam usaha meningkatkan kualitas
sumber daya insaninya itu, manusia diikat oleh nilai-nilai illahi (aksiologi),
sehingga dalam pandangan FPI, manusia merupakan makhluk alternatif (dapat
memilih), tetapi ditawarkan padanya pilihan yang terbaik yakni nilai illahiyat.
Dari sini dapat kita simpulkan bahwa manusia itu makhluk alternatif
(bebas) tetapi sekaligus terikat (tidak bebas nilai).
B.
Manusia adalah subyek pendidikan, sekaligus juga
obyek pendidikan. manusia dewasa yang berkebudayaan adalah subyek
pendidikan yang berarti bertanggung jawab menyelenggareakan pendidikan.
mereka berkewajiban secara moral atas perkembangan probadi anak-anak mereka,
yang notabene adalah generasi peneruis mereka. manusia dewasa yang
berkebudayaaan terutama yang berfrofesin keguruan (pendidikan) bertanggung
jawab secara formal untuk melaksanakan misi pendidikan sesuai dengan tujuan dan
nilai-nilai yang dikehendaki ,asyarakan bengsa itu.
Manusia yang belum dewasa, dalam proses
perkembangan kepribadiannya, baik menuju pembudayaan maupun proses kematangan
dan intregitas, adalah obyek pendidikan. Artinya mereka adalah sasaran
atau bahan yang dibina. Meskipun kita sadarai bahwa perkembangan kepribadian adalah
self development melalui self actifities, jadi sebagai subjek
yang sadar mengembangkan diri sendiri.
C.
Alam semesta adalah media pendidikan sekaligus sebagai
sarana yang digunakan oleh menusia untuk melangsungkan proses pendidikan.
Didalam alam semesta ini manusia tidak dapat hidup dan “mandiri” dengan
sesungguhnya. Karena antara manusia dan alam semesta saling membutuhkan
dan saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya. Dimana alam semesta ini
butuh manusia untuk merawat dan memeliharanya sedangkan manusia butuh alam
semesta sebagai sarana berinteraksi dengan manusia lainnya.
Pada umumnya ada tiga macam konsepsi
tentang alam semesta atau identifikasi tentang alam semesta, yaitu :
1) Ilmu pengetahuan yang didasarkan
pada dua hal yaitu teori dan eksperimen.
2) Filsafat yang didasarkan pada
prinsip yang jelas dan tidak dapat disangkal lagi oleh akal dan bersifat umum
dan konpherensif.
3) Agama yang didasarkan pada pemikiran
dan hujah. Dengan demikian konsepsi islam mengenai alam semesta bersifat
rasional dan filosofis. Selain konsepsi filosofis yaitu abadi dan komprehensif,
konsepsi religius tentang alam semesta tak seperti konsepsi ilmiah dan
filosofis murni, memiliki satu nilai lagi, yaitu menyucikan prinsip-prinsip
konsepsi alam semesta.
Relasi antara Tuhan, alam dan
manusia
1. Tuhan dan manusia
Relasi yang kompleks secara
konseptual dapat dianalisis berdasarkan empat bentuk utama relasi antara Tuhan
dan manusia, antara lain:
a.
Relasi ontologis yaitu antara Tuhan
sebagai sumber eksistensi manusia yang utama dan manusia sebagai representasi
dunia wujud eksistensi nya berasal dari Tuhan atau dengan kata lain hubungan
Pencipra dengan makhluk.
b. Relasi komunikatif yaitu Tuhan dan
manusia dibawa ke dalam korelasi yang sangat dekat satu sama lain dan melalui
komunikasi timbal balik.
c.
Relasi Tuan-hamba, relasi ini
melibatkan Tuhan sebagai di pihak Tuhan sebagai Tuan (Rabb), semua konsep yang
berhubungan dengan keagunganNya, sedangkan manusia sebagai hamba yang patuh.
d. Relasi etik, relasi ini didasarkan
pada perbedaan dasar antara dua aspek yang berbeda yang dapat dibedakan dengan
konsep tentang Tuhan itu sendiri dan manusia sendiri.
2. Manusia dan alam
Pada kenyataannya saat ini manusia
sudah tidak lagi memperhatikan keseimbangan alam dalam pengeksploitasiannya.
Saat ini manusia sudah dikuasai nafsu untuk meraup keuntungan
sebanyak-banyaknya sehingga dalam memanfaatkan alam tak lagi memperdulikan
dampak buruk terhadap keimbangan ekosistem alam di bumi ini. Hutan-hutan yang
dulu lebat kini sudah gundul karena pohonnya habis ditebangi untuk berbagai
macam keperluan industri. Ditambah lagi mayoritas kegiatan penebangan pohon
tidak diikuti dengan kegiatan menanam pohon dengan persentase minimal setara
dengan banyak pohon yang ditebang. Hal ini sungguh berakibat fatal, karena
dengan demikian fungsi hutan sebagai penahan air, penyaring udara dan habitat
bagi berbagai macam ekosistem flora dan fauna bisa musnah. Bila hal itu
terjadi, maka jelaslah hanya dampak buruk yang akan kita terima sebagai
konsekuensinya. Contohnya saja banjir bandang, tanah longsor dan yang paling
parah ialah pemanasan global yang sekarang sedang terjadi. Dan ketika musibah
itu terjadi, maka kita secara refleks akan berdo’a kepada Allah dengan hati
yang ikhlas dan semata-mata karena Allah karena berharap kita segera
diselamatkan dari musibah itu.
DAFTAR PUSTAKA